Sakral, Deklarasi Sabhyanadipala Menandai Spirit Pelestarian Budaya, Sejarah dan Sungai
Penulis | Suyono
Minggu (23/8/2026), pagi itu riuh doa, aroma dupa, tabuhan irama, dan kibaran sang saka getih getah mengiringi semangat lingkungan menyatu dalam rangkaian Deklarasi Sabhyanadipala—sebuah gerakan bersama masyarakat Tuban untuk menjaga, merawat, dan memulihkan kehidupan di sepanjang aliran sungai.
Mentari pagi mulai beranjak, saat puluhan pejuang lingkungan, dan pegiat sejarah berkumpul di Rasyi - sebuah lokasi sekaligus titik bersejarah yang tercatat di Prasasti Canggu.
BACA JUGA :
- Toponimi i Rasyi di Prasasti Canggu Jadi Dasar Penetapan Hari Jadi Desa Ngadirejo
- Pentas Budaya Agung, Hari Jadi Desa Ngadirejo ke 668 sesuai Penetapan Prasasti Canggu
- Peresmian Monumen Prasasti Canggu Jadi Momen Penetapan Hari Jadi Desa Ngadirejo
Pagi itu, wangi dupa menyergap para pejuang sungai yang berkumpul didepan nasi tumpeng. Suasana sakral ritual menyelimuti pelataran monumen desa - yang menghadap monumen prasasti Canggu i rasyi - replika prasasti bertuliskan Aksara Jawa Kuno - yang didalamnya memuat nama-nama desa bebas pajak di tepian Bengawan Solo.
Sebelum perahu bergerak menyusuri sang Bengawan, sosok dalang Kontemporer bernama Ki Ompong Soedharsono menuturkan Piweling—pesan luhur untuk memuliakan alam—diiringi Pandungan (doa) serta tarian sufi yang berputar elok. Usai ritual, irak-irakan kirab bergerak sejauh 400 meter menuju Dermaga I Rasyi, membawa amanat pelestarian sejarah, budaya, dan lingkungan.
Petualangan utama dimulai dari Dermaga I Rasyi. Camat Rengel, Eko Wardono, bersama Kades Ngadirejo, Gatot Srikuntolo, melepas tim pengarung sungai (ngintir) yang menggunakan tiga perahu motor, rombongan menembus arus Bengawan Solo sejauh 15 kilometer menuju Kebomlati, Plumpang.
Prosesi ini berlangsung aman dengan pengawalan ketat dari BPBD Tuban, Basarnas Surabaya, dan Kampung Siaga Bencana (KSB) Rengel.
Perjalanan air selama satu jam itu akhirnya tiba di dermaga Desa Kebomlati. Sekitar 600 warga melimpah ruah, tumpah blek menyatukan dukungan bersama Forkopimda, anggota DPRD, sponsor, hingga para aktivis dan pemerhati sejarah dari berbagai daerah—mulai dari Gresik, Surabaya, Nganjuk, Sidoarjo, Bojonegoro, Tulungagung, Magetan, hingga Magelang.
Lautan Manusia siang itu tampak memadati dermaga sungai Kebomlati - sebuah Desa yang juga tercatat dalam prasasti Canggu dengan toponimi i Pakbohan ini
BACA JUGA :
- Sabyanadipala Deklarasikan Gerakan Budaya Pemuliaan Sungai Bengawan Solo
- Sabhyanadipala, Penjaga Peradaban Sungai
- Pagelaran Wayang Blang Bleng Meriahkan Deklarasi SabhyanadÄŤpala di Kebomlati, Tuban
"Kami tidak menyangka antusias masyarakat, pemerintah, hingga komunitas luar daerah begitu luar biasa. Walau persiapan tergolong singkat, ini menjadi kebanggaan besar bagi kami untuk memulai langkah menjaga Bengawan Solo," ungkap Penanggung Jawab Deklarasi sekaligus Kades Kebomlati, Moenijan, dengan nada haru di hadapan ratusan hadirin.
Di tepian sungai, momentum sejarah terukir saat anggota DPRD Tuban Tia Antika Pramaseti, Camat Plumpang Saefiyudin, dan Ketua Sekber Jokokalibe BBWS Solo Wilayah Hilir Atekan Andriono menggelar prosesi Pasrah Tinampi—penyerahan mandat resmi kepada pengurus Sabhyanadipala.
![]() |
| Penyerahan Pataka Sabhyanadipala (di Desa Ngadirejo) |
Bagi Kebomlati, peristiwa ini mengulang kenangan manis saat Misi Ekspedisi Bengawan Solo (MEBS) singgah pada 2022 lalu.Kini, melalui wadah besar Sabhyanadipala, masyarakat bantaran sungai tak lagi sekadar menjadi saksi sejarah, melainkan aktor utama yang siap sedia menjaga warisan alam dan peradaban Tuban demi masa depan. (*)



Posting Komentar